Entri Populer

Selasa, 06 Desember 2011

CINTA ITU APA





Bila telapak tanganmu berkeringat, hatimu dag dig dug, suaramu bagai tersangkut di tenggorokan, itu bukan cinta, tapi SUKA. 

Bila tanganmu tidak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya, itu bukan cinta, tapi BIRAHI. 

Bila kamu menginginkannya karena tahu ia akan selalu berada di sisimu, itu bukan cinta, tapi KESEPIAN. 

Bila kamu menerima pernyataan cintanya karena kamu tidak mau menyakiti hatinya, itu bukan cinta, tapi KASIHAN. 

Bila kamu bersedia memberikan semua yang kamu sukai demi dia, itu bukan cinta, tapi KEMURAHAN HATI. 

Bila kamu bangga dan selalu ingin memamerkannya kepada semua orang, itu bukan cinta, tapi KEMUJURAN. 

Bila kamu mengatakan padanya bahwa ia adalah satu-satunya hal yang kamu pikirkan, itu bukan cinta, tapi GOMBAL.

Kamu mencintainya, ketika kamu menerima kesalahan dia, karena itu adalah bagian dari KEPRIBADIANMU.

Ketika kamu rela memberikan hatimu, kehidupanmu, bahkan kematianmu, ketika hatimu tercabik bila ia sedih, dan berbunga bila ia bahagia, ketika kamu menangis untuk kepedihannya, biarpun ia cukup tegar menghadapinya, ketika kamu tertarik kepada orang lain tetapi kamu masih setia bersamanya, itu mungkin arti dari sebuah CINTA..

Cinta adalah pengorbanan. Mencintai berarti memberi diri. Cinta adalah kematian atas egoisme dan egosentrisme..





Rabu, 02 November 2011

Me and My fams

    
         This is my beloved mom :)



This is my grandma, mom, and father :)


Jumat, 28 Oktober 2011

Kehidupanku dan hidup mereka

KEHIDUPANKU dan HIDUP MEREKA

Hari ini sudah dimulai dengan hari senin kembali, rasanya sangat lelah untuk memulai beraktivitas lagi. Tapi aku anak sekolah, dan aku harus sadar akan tanggung jawabku untuk belajar dan melalaikan sebuah kata yang seakan akan tidak berguna yaitu “rasa malas”.

Segera saja aku bergegas dan bersiap untuk memulai semua rutinitas pagi ini, dengan diawali sebuah doa yang selalu mengiringi langkahku. Tujuan pertamaku adalah menuju sekolah. Di sepanjang perjalanan menuju sekolah, banyak sekali ku lihat anak jalanan, pemulung, dan pengemis yang seolah selalu menjadi pemandangan sehari-hari kita. Tak tahu mengapa seolah itu menjadi beban pikiranku. Tetapi sesaat kulupakan karena aku sudah sampai di sekolah dan harus segera menyiapkan diri mengikuti ulangan.

Sekolah seakan akan rumah kedua untukku. Disini aku banyak belajar dan mendapatkan ilmu. Bukan hanya belajar secara materi, tapi secara psikis aku juga belajar bergaul dan berinteraksi dengan orang lain disini. Banyak hal yang kudapatkan, bukan saja hanya ilmu tetapi juga sebuah pengalaman yang akan berguna untuk kehidupanku di massa datang.

Sepulang sekolah aku melihat pemandangan itu kembali, dan Tuhan itu membuat hatiku teriris. Sebuah pemandangan yang seharusnya tak layak dan tak pantas ada di negara kita, yaitu rakyat kecil yang berusaha bekerja dengan cara meminta-minta yang tentu saja akan membuat hati orang merasa iba. Mulai dari anak kecil yang mengemis di jalanan, kemudian orang tua dengan keadaan kurang sempurna juga meminta minta di tengah jalan. Ya Tuhan seperti inikah kehidupan rakyat kecil di negeriku ?

Seharusnya anak anak itu bersekolah, dan menikmati masa masa mereka, tapi dalam realitanya mereka tak ada waktu sedikitpun untuk belajar dan bermain, karena ada satu hal yang harus mereka lakukan demi menyambung hidup mereka yaitu bekerja.

Entah itu keinginan mereka sendiri atau bahkan suruhan dari orang tua mereka, tetapi tetap saja itu membuatku tak tega melihat keadaan mereka. Andaikan mereka bisa mengeluh, mereka pasti menginginkan sebuah kehidupan normal dan layak seperti orang lain, bukan hidup seperti ini yang seakan akan mimpi buruk bagi mereka. Bahkan siapa saja pasti tak menginginkan hidup seperti ini, serba kekurangan, tapi selalu disyukuri mereka sehingga mereka merasa berkecukupan.

“Inikah hidup rakyat Indonesia? Didera sebuah problematika ekonomi sehingga rakyatnya menjadi seperti ini? Adakah para pejabat dan petinggi negeri memikirkan nasib dan keadaan mereka? Adakah bantuan yang mereka salurkan untuk mengubah roda perekonomian mereka? Ataukah para pejabat kita sibuk dihadapi dengan sebuah persoalan intern yang bersumber dari dalam kantor mereka, sehingga mereka tak punya waktu untuk menengok rakyatnya disini? Atau memang mereka tak perduli lagi? Apa mereka masih ingat, kita masih satu bangsa dan satu negara? Tetapi mana solidaritas mereka untuk rakyat kecil? Apa mereka menunggu sebuah sorotan dari wartawan terlebih dahulu untuk menyalurkan bantuan? Atau jangan jangan mereka sibuk dengan harta kekayaan mereka dari hasil keringat yang mereka dapatkan? Tidak menangiskah hati mereka melihat saudaranya sendiri dalam keadaan dan kondisi yang memprihatinkan? Terbukakah mata hati mereka melihat keadaan seperti ini?

Apa mereka menutup mata hati dan telinga mereka sehingga mereka tidak mau tau tentang soal ini? Tidakkah mereka berupaya membuka sebuah lapangan pekerjaan untuk mengurangi tingkat kemiskinan di luar sana? Apa mereka bangga melihat warganya sendiri, melihat saudaranya sendiri menjadi seorang tenaga kerja di luar negeri? Haruskah rakyatnya sendiri menjadi pekerja di negeri sendiri, tetapi pengusaha luar negeri yang menjadi atasan mereka di negeri kita sendiri? Akankah seperti ini untuk selamanya? Akankah ada perubahan? Atau memang akan begini begini saja? Mana janji mereka untuk memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakatnya? Mana janji mereka untuk memberikan segala apa yang dibutuhkan rakyatnya? Masih berharapkah mereka ngeri kita akan maju dengan kondisi seperti ini? Masih berharapkah mereka sumber daya manusianya berkualitas jika seperti ini? Apa seperti ini cara mereka membalas pengorbanan para pahlawan kita yang berusaha sekuat tenaga merebut negeri kita dari tangan penjajah?

Tanyakan saja berbagai macam pertanyaan ini kepada mereka! Tanyakan saja bagaimana kelanjutan hidup kita nanti! Tanyakan, apakah ada sebuah perubahan setelah kami bertanya ini kepada mereka? Tanyakan, adakah sedikit dari gaji yang mereka dapat seharusnya untuk kami rakyat kecil? Atau mungkinkah kami tak layak meminta bantuan kepada mereka?

Kami ingin sebuah perubahan yang lebih baik dari ini, kalau tak dimulai dari sekarang, kapan lagi hidup kami akan berkecukupan seperti kalian? Esok hari? Lusakah? Atau kapan lagi?

Banyak dari kami yang meninggal kelaparan karena tak mampu membeli sesuap nasi, tapi kalian selalu makan makanan enak dan lezat di setiap harinya. Banyak dari kami memakai pakaian tak layak pakai, tapi harga baju kalian jutaan rupiah, begitu mewah dan menyilaukan mata kami. Banyak dari anak anak kami yang ingin bersekolah seperti anak kalian, tapi sayangnya kami tak mampu untuk itu. Banyak dari kami yang ingin hidup seperti kalian, tapi itu sebuah mimpi bagi kami.

Kepada siapa lagi kami harus mengadu? Kepada siapa lagi kami harus mengeluh?”Mungkin itulah segelintir pertanyaan yang seandainya saja mereka mampu berucap, mereka pasti akan mengatakan seperti itu.

Sesampainya dirumah, aku segera berganti pakaian untuk berangkat les. Oh Tuhan betapa beruntungnya hidupku saat ini. Ternayata di liuar sana masih banyak orang yang belum beruntung. Ternyata pula hidupku berkecukupan. Aku bersyukur atas segala rahmat dan limpahan kasih sayang-Mu Tuhan. Aku masih diberikan anugerah sampai detik ini, lengkap dengan kedua orang tuaku yang masih menyayangiku.

Banyak diluar sana merka yang sudah yatim piatu. Betapa beruntungnya aku Tuhan! Aku berterima kasih karna engkau telah membuka mata hati dan pikiranku untuk tetap selalu bersyukur kepada-Mu. Sehingga aku selalu sadar akan semua hal yang aku miliki.